Feeds:
Posts
Comments
kompas..

Rabu, 16 April 2008 | 12:57 WIB

JAKARTA,RABU – Perbankan diperkirakan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga deposito rupiah dan dollar AS, menyusul stabilnya tingkat suku bunga acuan (BI Rate) Bank Indonesia yang bertengger di angka 8 persen. “Bertahannya tingkat suku bunga deposito rupiah dan dollar AS itu, karena BI kemungkinan akan tetap mempertahankan bunga BI Rate-nya akibat laju inflasi yang tinggi,” kata Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib seperti dikutip Antara, di Jakarta, Rabu (16/4).

Ia mengatakan, laju inflasi yang cenderung tinggi terutama disebabkan kenaikan harga sembilan bahan pokok dan harga minyak mentah. “Kondisi ini juga cenderung memberikan peluang bagi BI Rate untuk naik 25 basis poin ketimbang turun, namun kenaikan itu akan memberikan dampak negatif terhadap pasar,” ucapnya.

Apabila kenaikan BI Rate terjadi, lanjut dia, maka penyaluran kredit perbankan diperkirakan akan melambat. “Karena nasabah, merasa kesulitan untuk mengembalikan kredit pinjamannya kepada bank,” ucapnya.

BI Rate, menurut dia, memang tidak ada peluang untuk turun sepanjang tahun ini kalau laju inflasi yang terjadi terus menguat. “Karena itu, perbankan diperkirakan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga agar penyaluran kredit tetap berjalan sebagaimana adanya,” ujarnya.

Sementara itu, bank sentral AS (The Fed) pada pertemuan akhir bulan ini berencana untuk menurunkan kembali suku bunga Fed fund sebesar 50 basis poin menjadi 1,75 persen dari sebelumnya 2,25 persen. “Penurunan bunga Fed fund mengakibatkan selisih bunga rupiah terhadap dollar AS semakin melebar sebesar 6,25 persen yang diharapkan akan memicu pelaku asing kembali memasuki pasar domestik,” ucapnya.

Investor asing, menurut dia, sementara ini agak menahan diri bermain di pasar domestik, mereka lebih aktif bermain di pasar komoditas yang memberikan gain lebih tinggi. “Namun dengan makin tingginya selisih bunga rupiah terhadap dollar AS, maka pasar domestik akan kembali bergairah,” katanya.

Sejumlah bank yang masih mempertahankan suku bunga deposito rupiah dan dollar AS, antara lain, Bank BNI dengan suku bunga deposito rupiah untuk satu bulan sampai setahun mencapai 5,25 persen dan deposito dollar AS rata-rata 3,75 persen.

Kemudian Bank Panin Tbk, deposito rupiah untuk satu bulan hingga setahun rata-rata mencapai 6,50 persen dan dalam dollar AS 2,50 persen, serta Bank NISP deposito rupiah dari satu bulan sampai 12 bulan masing-masing enam persen dan dalam dollar AS 3,5 persen.

Advertisements

yogyakartaTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kinerja pembangunan Propinsi DIY yang diindikasikan dengan pergeseran struktur ekonomi, pola pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sektor unggulan antara era sebelum dan pada era otonomi daerah. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga pergeseran struktur ekonomi, tingkat konsentrasi dan spesialisasi, basis ekonomi sektoral, sektor ekonomi potensial dan sektor ekonomi unggulan antara era sebelum dan pada era otonomi daerah adalah berbeda.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan menggunakan data sekunder yang berupa variabel PDRB beserta komponen-komponennya di Propinsi DIY dan juga variabel PDB Indonesia antara era sebelum (1998-2000) dan pada era otonomi daerah (2001-2004). Adapun metode analisis data yang digunakan antara lain analisis Deskriptif, analisis Shift-Share E-M, analisis Indeks Konsentrasi, analisis Indeks Spesialisasi, analisis LQ, analisis MRP, dan analisis Overlay. Selain itu untuk menguji gambaran kinerja antara era sebelum dan pada era otonomi daerah digunakan analisis uji t untuk dua sampel berpasangan dan analisis uji t untuk dua sampel independen (khusus pada hasil analisis LQ).

Berdasarkan analisis deskriptif didapat hasil bahwa telah terjadi perubahan struktur ekonomi yang ditunjukkan dengan menurunnya kontribusi sektor primer dan meningkatnya kontribusi kelompok sektor lain. Berdasarkan analisis Shift-Share E-M didapat hasil pergeseran struktur ekonomi pada era sebelum otonomi daerah sebesar Rp. 614.149,57 juta, sedangkan pada era otonomi daerah sebesar Rp. 2.093.742 juta. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa hanya komponen Nij yang berbeda secara significant antara kedua era tersebut, sedangkan komponen Mij, C’ij dan Aij tidak berbeda secara significant. Berdasarkan hasil analisis indeks konsentrasi didapat hasil pola pertumbuhan ekonomi baik pada era sebelum maupun pada era otonomi daerah adalah semakin menyebar dengan perubahan koefisien konsentrasi masing-masing sebesar -0,0276 dan -0,0552. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa perubahan koefisien konsentrasi antara kedua era tersebut tidak terdapat perbedaan yang significant. Berdasarkan analisis indeks spesialisasi didapat hasil bahwa pola pertumbuhan ekonomi baik pada era sebelum maupun pada era otonomi daerah adalah semakin menyebar/tidak terspesialisasi dengan perubahan koefisien spesialisasi masing-masing sebesar -0,0581 dan -0,0219. Dari pengujian beda 2 mean didapat hasil bahwa perubahan koefisien spesialisasi antara kedua era tersebut tidak terdapat perbedaan yang significant. Sementara itu, dari hasil identifikasi basis ekonomi sektoral dengan analisis LQ menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan berarti deskripsi sektor ekonomi basis antara kedua era tersebut. Hal ini diperkuat dengan hasil uji beda 2 mean yang nilai probabilitasnya > 0,05 dan hasil uji beda 2 mean secara sektoral yang nilai probabilitas pada sebagian besar sektor > 0,05 (kecuali pada sektor industri pengolahan dan listrik gas, dan air bersih). Dari analisis MRP didapat hasil bahwa deskripsi sektor ekonomi potensial mengalami penurunan pada era otonomi daerah dikarenakan beberapa sektor tumbuh lebih lambat dibanding sektor yang sama di wilayah nasional, namun demikian hasil uji beda 2 mean menunjukkan bahwa deskripsi sektor ekonomi potensial tidak berbeda secara significant antara kedua era tersebut. Dengan menggabungkan hasil analisis LQ dan MRP didapat sektor ekonomi unggulan (kontribusi (+) pertumbuhan (+)) di Propinsi DIY pada era sebelum otonomi daerah adalah sektor pertanian; bangunan; perdagangan; pengangkutan; keuangan; dan jasa-jasa, sedangkan pada era otonomi daerah sektor unggulannya adalah listrik, gas dan air minum; bangunan; perdagangan; dan keuangan.

Mengacu pada hasil tersebut, maka diajukan beberapa saran terhadap kebijakan pengembangan perekonomian sektoral di Propinsi DIY, sebagai berikut (1) pemerintah daerah perlu untuk melakukan identifikasi terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh sektor-sektor yang tertinggal di Propinsi DIY, agar dapat ditemukan solusi yang tepat untuk kebijakan pengembangan sektor tersebut ke depannya. (2) Pemerintah Propinsi DIY perlu lebih menggali potensi pengembangan sektor industri manufaktur, dikarenakan perkembangan sektor ini jauh tertinggal dibandingkan dengan sektor yang sama di wilayah nasional. (3) Pemerintah daerah perlu meningkatkan spesialisasi antar Kabupaten/Kota di Propinsi DIY. (4) kebijakan pembangunan dan pengembangan sektoral perekonomian daerah hendaknya lebih diprioritaskan pada sektor dan subsektor unggulan (kontribusi (+) dan pertumbuhan (+). (5) Perlunya upaya untuk lebih menarik investor untuk menanamkan modal pada sektor dan subsektor diluar kelompok sektor tersier, untuk mengurangi ketimpangan antar sektor di Propinsi DIY.Link2

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> DIY sebelum terjadinya bencana gempa. bangkitlah Yogya ku. I love u..

nb: untuk info journal selengkapnya bisa email ke lilingjoko@yahoo.com

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!